Penyejuk Iman
GKJ Danukusuman Surakarta www.gkj-danukusuman.co.cc

“Mendidik Dengan Pikiran dan Perasaan Kristus”


Bacaan Filipi 2 : 1 – 11; Nas Filipi 2 : 5 – 7.
Dalam satu pekan ini kita diajak LP3K Sinode GKJ-GKI Jateng untuk merenungkan tema tersebut di atas. Apa tujuan diangkat tema tersebut? Nampaknya dunia pendidikan jaman sekarang perlu perhatian yang cukup serius dari kita. Mengapa demikian? Coba kita bayangkan, berapa lama lembaga pendidikan Kristen melakukan pengabdiannya dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi jika kita perhatikan betapa buah didikan lembaga pendidikan (baca: khususnya lembaga pendidikan Kristen) hanya mengutamakan segi intelektualitas, sedangkan segi religiusnya kadang diabaikan. Buktinya: banyak sekali kita temukan kasus anak-anak didik di lembaga Kristen yang gaya hidupnya egois, hedonis, konsumeris dan bahkan banyak pula yang terjebak dalam dunia kriminalitas. Untuk itu LP3K mengajak sekolah Kristen dan Gereja untuk mempropagandakan gaya hidup yang dimiliki Yesus.
Jika kita tinjau kesaksian Filipi 2:1-11 (khususnya nas ayat 5-7) Rasul Paulus mengajak jemaat Filipi dan para pembaca suratnya untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus. Apa arti menaruh pikiran dan perasaan Kristus? Esensi dari nas jelas sekali, bahwa:
1. Orang percaya diajak untuk membangun komitmen (baca: kesungguhan) dalam melakukan karya pelayanan. Yesus yang berasal dari Allah dalam melaksanakan karya pelayanan-Nya tidak mempertahankan posisinya sebagai Allah. Artinya Yesus tidak mau menggunakan segala fasilitas yang dimiliki untuk menyelesaikan misi-Nya. Dia menjalani setiap pelayanan, menjalani setiap penderitaan sebagai bagian dari proses yang harus dijalani di dunia ini. Refleksinya: orang percaya diajak untuk tidak mengambil dan menggunakan “jalan pintas” dalam menjalani hidupnya.
2. Orang percaya diajak untuk menjadi hamba Allah. Walaupun posisi Yesus adalah Tuhan, tetapi Dia rela menjadi hamba Allah dan dengan setia melakukan misi-Nya menyelamatkan manusia. Sebagai hamba Dia rela menjalani jalan salib demi kesuksesan dan keberhasilan pelayanan-Nya. Walaupun banyak rintangan dan penderitaan dalam melakukan karya-Nya Dia tidak pernah menolak kehendak Allah, tetapi penderitaan-penyaliban-kematian dilalui-Nya dengan setia dan tulus. Ini adalah prinsip hidup seorang hamba. Refleksinya: sebagai hamba Allah orang percaya mau tidak mau harus setia pada panggilannya, rela menderita dalam pelayanan dan mau menyalibkan segala keinginan dagingnya demi terwujudnya kehendak Allah.
Dengan demikian sebagai bagian dari dunia pendidikan Kristen kita diajak untuk mendidik anak-anak kita, mendidik warga Gereja, mendidik orang-orang di dekat kita untuk berpikiran dan berperasaan seperti Kristus; seperti yang terdapat dalam Fil. 2:5-7. Tetapi yang lebih penting adalah: mari kita didik diri kita sendiri untuk berpikiran dan berperasaan seperti Kristus !!!
0 comments:

Post a Comment

Tempat mengakses ayat-ayat yang terdapat di dalam Renungan.
Versi Terjemahan Kitab Pasal Ayat  
: -

Followers

Blogumulus by Roy Tanck and jide-theater

By Komisi Multimedia

Post recent