Maaf, tidak ada waktu
3:28 AM
Perenungan dari Daniel 6 : 1 - 12
Apakah anda merasa bahwa sekarang ini waktu berjalan dengan begitu cepat ? Pada pagi hari kita merencanakan untuk melakukan ini dan itu selama sehari, namun ternyata jam berjalan dengan begitu cepatnya dan pagi telah berganti dengan malam. Pekerjaan yang kita rancang bakal selesai hari ini ternyata terpaksa tertunda dan di selesaikan besok. Semuanya berjalan dengan cepat dan membutuhkan alokasi waktu yang tidak sedikit. Bahkan, sampai – sampai kita melupakan Tuhan.
Kesibukan yang begitu padat dalam kehidupan kita sehari – hari, kadangkala membuat kita harus selektif di dalam memilih kegiatan apa yang harus kita lakukan. Kesibukan yang begitu padat juga membuat kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya untuk melakukan segala pekerjaan kita. Jika tidak demikian, maka kita perkirakan semuanya tidak akan selesai pada waktunya dan kita semakin kerepotan.
Daniel yang menjadi tokoh dalam perikop ini, dapat dikatakan sebagai orang yang sibuk. Betapa tidak, ia adalah seorang pejabat negara yang harus memberi pertanggungjawaban kepada raja supaya tidak dirugikan ( ayat 3 ). Pastilah kesibukannya luar biasa banyak. Walaupun demikian, di tengah segala kesibukannya, ternyata Daniel tetap membiasakan diri untuk menyediakan waktu bertemu dengan Tuhannya. Tiga kali sehari ku berlutut, berdoa serta memuji Allahnya ( ayat 11 ). Hal ini dilakukannya tentu karena Daniel menyadari benar bahwa kekuatan yang sejati datangnya dari Allah.
Sebagai manusia, kesibukan adalah sudah menjadi bagian di dalam hidup kita. Namun kita harus ingat bahwa kesibukan tidak dapat dilakukan terus menerus, kita membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan stamina kita. Rohani kita butuh istirahat dari segala macam kesibukan agar dapat mengganti semangat yang lesu dengan semangat yang baru. Itu semua bisa di dapat jika kita menyediakan waktu untuk bertemu dengan Tuhan, dalam waktu saat teduh dan dalam waktu doa kita. Ingatlah jangat sampai di akhir hidup kita Sang Penjunan Agung berkata kepada kita “ Maaf, tidak ada waktu. “
Apakah anda merasa bahwa sekarang ini waktu berjalan dengan begitu cepat ? Pada pagi hari kita merencanakan untuk melakukan ini dan itu selama sehari, namun ternyata jam berjalan dengan begitu cepatnya dan pagi telah berganti dengan malam. Pekerjaan yang kita rancang bakal selesai hari ini ternyata terpaksa tertunda dan di selesaikan besok. Semuanya berjalan dengan cepat dan membutuhkan alokasi waktu yang tidak sedikit. Bahkan, sampai – sampai kita melupakan Tuhan.
Kesibukan yang begitu padat dalam kehidupan kita sehari – hari, kadangkala membuat kita harus selektif di dalam memilih kegiatan apa yang harus kita lakukan. Kesibukan yang begitu padat juga membuat kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik – baiknya untuk melakukan segala pekerjaan kita. Jika tidak demikian, maka kita perkirakan semuanya tidak akan selesai pada waktunya dan kita semakin kerepotan.
Daniel yang menjadi tokoh dalam perikop ini, dapat dikatakan sebagai orang yang sibuk. Betapa tidak, ia adalah seorang pejabat negara yang harus memberi pertanggungjawaban kepada raja supaya tidak dirugikan ( ayat 3 ). Pastilah kesibukannya luar biasa banyak. Walaupun demikian, di tengah segala kesibukannya, ternyata Daniel tetap membiasakan diri untuk menyediakan waktu bertemu dengan Tuhannya. Tiga kali sehari ku berlutut, berdoa serta memuji Allahnya ( ayat 11 ). Hal ini dilakukannya tentu karena Daniel menyadari benar bahwa kekuatan yang sejati datangnya dari Allah.
Sebagai manusia, kesibukan adalah sudah menjadi bagian di dalam hidup kita. Namun kita harus ingat bahwa kesibukan tidak dapat dilakukan terus menerus, kita membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan stamina kita. Rohani kita butuh istirahat dari segala macam kesibukan agar dapat mengganti semangat yang lesu dengan semangat yang baru. Itu semua bisa di dapat jika kita menyediakan waktu untuk bertemu dengan Tuhan, dalam waktu saat teduh dan dalam waktu doa kita. Ingatlah jangat sampai di akhir hidup kita Sang Penjunan Agung berkata kepada kita “ Maaf, tidak ada waktu. “
Yakinlah dan pergilah…
3:28 AM
Perenungan dari Lukas 24 : 44 – 49.
Minggu ini memasuki minggu terakhir penampakan Yesus kepada para murid, karena sebentar lagi Dia akan naik ke Sorga. Dalam bacaan ini kita belajar kembali peristiwa penampakan Yesus kepada para murid, dimana saat itu para murid sedang berkumpul mendengarkan pengalaman Kleopas dan temannya ketika mereka pulang ke Emaus. Disini ditampilkan kembali keragu-raguan, ketidakpercayaan para murid pada kebangkitan guru mereka. Bahkan oleh narator diceritakan mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu (ay. 37). Ditengah kondisi psikis yang terkejut dan ragu-ragu tersebut, Yesus membuka pikiran para murid (ay. 45). Yesus membuka pikiran para murid bahwa kehadiranNya ke dunia ini harus menjalani penderitaan, mati dan hari yang ketiga dibang-kitkan atau dimuliakan pada hari yang ketiga (ay. 46). Inilah unsur pertama “yakinlah kepadaKu” yang disampaikan Yesus kepada muridNya, agar supaya para murid benar-benar meyakini bahwa yang berdiri di depan mereka adalah benar-benar Yesus yang mereka harapkan dalam hidupnya. Setelah Yesus meyakinkan para murid, Yesus juga menya-takan: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa (ay. 47). Dalam hal ini Yesus menyatakan kepada para murid bahwa mereka mempunyai tugas panggilan di dunia ini untuk menyampaikan pertobatan dan pengampunan dosa. Esensi pertobatan dan pengampunan dosa adalah damai Kristus. Oleh karena itu tugas panggilan para murid adalah mewujudkan damai sejahtera Allah, pendamaian Allah dan manusia. Inilah unsur kedua yaitu “pergilah”; dimana para murid harus melakukan tugas panggilan mereka masing-masing.
Dari peristiwa penampakan Yesus kepada muridNya menurut kesaksian Lukas 24:44-49 ini kita diingatkan kembali agar kita dengan penuh kepastian meyakini Yesus yang bangkit itu adalah Tuhan. Dia juga mengingatkan kita akan tugas panggilan kita sebagai anak-anakNya yaitu mendatangkan damai sejahteraNya di dunia ini.
Minggu ini memasuki minggu terakhir penampakan Yesus kepada para murid, karena sebentar lagi Dia akan naik ke Sorga. Dalam bacaan ini kita belajar kembali peristiwa penampakan Yesus kepada para murid, dimana saat itu para murid sedang berkumpul mendengarkan pengalaman Kleopas dan temannya ketika mereka pulang ke Emaus. Disini ditampilkan kembali keragu-raguan, ketidakpercayaan para murid pada kebangkitan guru mereka. Bahkan oleh narator diceritakan mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu (ay. 37). Ditengah kondisi psikis yang terkejut dan ragu-ragu tersebut, Yesus membuka pikiran para murid (ay. 45). Yesus membuka pikiran para murid bahwa kehadiranNya ke dunia ini harus menjalani penderitaan, mati dan hari yang ketiga dibang-kitkan atau dimuliakan pada hari yang ketiga (ay. 46). Inilah unsur pertama “yakinlah kepadaKu” yang disampaikan Yesus kepada muridNya, agar supaya para murid benar-benar meyakini bahwa yang berdiri di depan mereka adalah benar-benar Yesus yang mereka harapkan dalam hidupnya. Setelah Yesus meyakinkan para murid, Yesus juga menya-takan: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa (ay. 47). Dalam hal ini Yesus menyatakan kepada para murid bahwa mereka mempunyai tugas panggilan di dunia ini untuk menyampaikan pertobatan dan pengampunan dosa. Esensi pertobatan dan pengampunan dosa adalah damai Kristus. Oleh karena itu tugas panggilan para murid adalah mewujudkan damai sejahtera Allah, pendamaian Allah dan manusia. Inilah unsur kedua yaitu “pergilah”; dimana para murid harus melakukan tugas panggilan mereka masing-masing.
Dari peristiwa penampakan Yesus kepada muridNya menurut kesaksian Lukas 24:44-49 ini kita diingatkan kembali agar kita dengan penuh kepastian meyakini Yesus yang bangkit itu adalah Tuhan. Dia juga mengingatkan kita akan tugas panggilan kita sebagai anak-anakNya yaitu mendatangkan damai sejahteraNya di dunia ini.
JANGAN MENGAGUNGKAN HARTA
3:25 AM
( Kejadian 14 : 1 - 16 )
Ada satu pandangan, bahwa seseorang akan hidup bahagia apabila ia sudah memiliki harta yang berlimpah di dalam hidupnya. Apabila sudah tercukupi, maka kebahagiaan hidupnya akan terpenuhi. Itulah salah satu pandangan orang yang mengagung–agungkan harta di dalam hidupnya. Orang yang mempunyai pandangan seperti itu, akan selalu berusaha untuk mendapatkan harta dengan segala cara.
Bolehkah kita mencari harta ? Tentu saja jawabannya adalah boleh. Akan tetapi ada satu hal yang harus kita perhatikan, jangan sampai di dalam hidup ini kita diperbudak dan dikuasai oleh harta. Kita sering melihat bahwa ada sebagian orang demi harta rela bekerja dari pagi sampai malam dan melupakan Tuhan serta keluarganya.
Pada saat ini marilah kita bersama–sama melihat Firman Tuhan yang menjadi dasar perenungan kita pada saat ini. Apakah yang dialami oleh Lot kemenakan Abram? Saat para gembala Lot dan Abram terjadi perselisihan, Lot dan Abram berpisah. Lot memilih lembah sungai Yordan yang subur dan tinggal di kota Sodom, yaitu sebuah kota tempat “sumber rejeki/ sorga dunia“. Akan tetapi, penduduk kota Sodom tidak takut kepada Tuhan. Karena penduduk kota Sodom tidak takut kepada Tuhan, maka Tuhan memberikan hukuman kepada kota Sodom.
Kisah yang dialami oleh Lot saat ini mengingatkan kita, bahwa harta itu bukan segala–galanya. Kita diingatkan, bahwa harta benda itu tidak kekal dan hanya titipan. Karena itu marilah saat ini kita bercermin kepada Firman Tuhan: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di Sorga; di Sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena itu dimana hartamu berada di situ juga hatimu berada” (Matius 6:19 –21 ).
Saat ini sebagai perenungan kita di dalam hidup ini, kita diingatkan, bahwa segala yang sudah Tuhan karuniakan kepada kita sebetulnya adalah merupakan sesuatu yang sangat berharga sekali di dalam hidup kita. Apa yang telah Tuhan berikan kepada kita baik itu kesehatan, umur panjang, rejeki dan kehidupan yang kekal adalah melebihi seluruh harta yang ada di dunia ini. Mari kita berlomba untuk mendapatkan harta tersebut.
Ada satu pandangan, bahwa seseorang akan hidup bahagia apabila ia sudah memiliki harta yang berlimpah di dalam hidupnya. Apabila sudah tercukupi, maka kebahagiaan hidupnya akan terpenuhi. Itulah salah satu pandangan orang yang mengagung–agungkan harta di dalam hidupnya. Orang yang mempunyai pandangan seperti itu, akan selalu berusaha untuk mendapatkan harta dengan segala cara.
Bolehkah kita mencari harta ? Tentu saja jawabannya adalah boleh. Akan tetapi ada satu hal yang harus kita perhatikan, jangan sampai di dalam hidup ini kita diperbudak dan dikuasai oleh harta. Kita sering melihat bahwa ada sebagian orang demi harta rela bekerja dari pagi sampai malam dan melupakan Tuhan serta keluarganya.
Pada saat ini marilah kita bersama–sama melihat Firman Tuhan yang menjadi dasar perenungan kita pada saat ini. Apakah yang dialami oleh Lot kemenakan Abram? Saat para gembala Lot dan Abram terjadi perselisihan, Lot dan Abram berpisah. Lot memilih lembah sungai Yordan yang subur dan tinggal di kota Sodom, yaitu sebuah kota tempat “sumber rejeki/ sorga dunia“. Akan tetapi, penduduk kota Sodom tidak takut kepada Tuhan. Karena penduduk kota Sodom tidak takut kepada Tuhan, maka Tuhan memberikan hukuman kepada kota Sodom.
Kisah yang dialami oleh Lot saat ini mengingatkan kita, bahwa harta itu bukan segala–galanya. Kita diingatkan, bahwa harta benda itu tidak kekal dan hanya titipan. Karena itu marilah saat ini kita bercermin kepada Firman Tuhan: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di Sorga; di Sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena itu dimana hartamu berada di situ juga hatimu berada” (Matius 6:19 –21 ).
Saat ini sebagai perenungan kita di dalam hidup ini, kita diingatkan, bahwa segala yang sudah Tuhan karuniakan kepada kita sebetulnya adalah merupakan sesuatu yang sangat berharga sekali di dalam hidup kita. Apa yang telah Tuhan berikan kepada kita baik itu kesehatan, umur panjang, rejeki dan kehidupan yang kekal adalah melebihi seluruh harta yang ada di dunia ini. Mari kita berlomba untuk mendapatkan harta tersebut.
IKUTLAH TUHAN
3:24 AM
Ada sebuah pujian dari Kidung Jemaat 376 yang syairnya: “Ikut Dikau saja Tuhan, jalan damai bagiku, aku slamat dan sentosa hanya oleh darahMu. Aku ingin ikut Dikau dan mengabdi padaMu, dalam Dikau Juru Slamat, ku bahagia penuh”.
Seandainya Matius hidup di jaman ini, kemungkinan besar lagu itu menjadi pujian yang akan dinyayikan ketika ia mengundang Tuhan Yesus untuk makan dirumahnya bersama dengan para rekannya sesama orang berdosa yang menjadi cemoohan bangsanya sendiri. Hari itu dimulai ketika Tuhan Yesus melihat Matius pemungut cukai dan berkata “Ikutlah Aku“.
Undangan ini merupakan undangan yang tidak ternilai keistimewaannya. Yesus, Sang Mesias, mengundang dan memanggil orang berdosa seperti Matius si pemungut cukai yang menurut pandangan orang lain adalah tidak berharga. Catatan: pemungut cukai adalah pengumpul pajak untuk pemerintah Romawi. Mereka mengumpulkan uang bagi penjajah asing selain itu mereka juga seringkali memungut pajak yang melebihi dari yang ditetapkan, sehingga mereka sangat dibenci dan di pandang sebagai orang yang berdosa.
Panggilan itu sendiri bagi Matius bukanlah sebuah panggilan yang tanpa konsekuensi. Ketika Allah memanggil, Ia memberikan anugerah dan sekaligus tanggung jawab. Mengikut Tuhan Yesus berarti meninggalkan seluruh kehidupan yang lama, termasuk pekerjaan yang telah memberikan suatu jaminan dan kemakmuran. Matius telah melepaskan semuanya itu dan keputusan ini akan menjadi sebuah tekad tanpa kemungkinan untuk kembali, dalam hal ini Matius sudah memilih apa yang paling bernilai dalam hidupnya.
Terhadap orang Farisi yang mengkritik sikapNya mengundang Matius, Tuhan Yesus balik mengkritik mereka. Mereka tidak mengerti hakikat undangan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengundang Matius karena Ia mengasihi orang berdosa dan ingin menyelamatkannya (ayat 13). Sikap orang Farisi ini menunjukkan bahwa mereka tidak merasa perlu mengikut Tuhan Yesus. Oleh karena itu, mereka tetap tinggal sebagai orang berdosa.
Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan mereka yang berdosa dan menarik mereka yang tersesat. Seringkali banyak orang yang merasa berdosa dan tersisih dari masyarakat tidak layak untuk datang kepada Yesus tetapi mereka lebih suka menjauh dari Tuhan dan tidak mau beribadah. Melalui perenungan kita pada saat ini kita diingatkan bahwa Tuhan Yesus adalah betul-betul Allah yang selalu mengerti dan peduli terhadap anak-anaknya. Ingatlah, Tuhan Yesus datang ke dunia ini bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.
Renungkan: Apakah anda seperti Matius yang menjawab panggilanNya mengikut Tuhan Yesus? Ataukah anda seperti orang Farisi yang tidak merasa perlu mengikut Dia? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tatapi orang sakit. Amin.
Seandainya Matius hidup di jaman ini, kemungkinan besar lagu itu menjadi pujian yang akan dinyayikan ketika ia mengundang Tuhan Yesus untuk makan dirumahnya bersama dengan para rekannya sesama orang berdosa yang menjadi cemoohan bangsanya sendiri. Hari itu dimulai ketika Tuhan Yesus melihat Matius pemungut cukai dan berkata “Ikutlah Aku“.
Undangan ini merupakan undangan yang tidak ternilai keistimewaannya. Yesus, Sang Mesias, mengundang dan memanggil orang berdosa seperti Matius si pemungut cukai yang menurut pandangan orang lain adalah tidak berharga. Catatan: pemungut cukai adalah pengumpul pajak untuk pemerintah Romawi. Mereka mengumpulkan uang bagi penjajah asing selain itu mereka juga seringkali memungut pajak yang melebihi dari yang ditetapkan, sehingga mereka sangat dibenci dan di pandang sebagai orang yang berdosa.
Panggilan itu sendiri bagi Matius bukanlah sebuah panggilan yang tanpa konsekuensi. Ketika Allah memanggil, Ia memberikan anugerah dan sekaligus tanggung jawab. Mengikut Tuhan Yesus berarti meninggalkan seluruh kehidupan yang lama, termasuk pekerjaan yang telah memberikan suatu jaminan dan kemakmuran. Matius telah melepaskan semuanya itu dan keputusan ini akan menjadi sebuah tekad tanpa kemungkinan untuk kembali, dalam hal ini Matius sudah memilih apa yang paling bernilai dalam hidupnya.
Terhadap orang Farisi yang mengkritik sikapNya mengundang Matius, Tuhan Yesus balik mengkritik mereka. Mereka tidak mengerti hakikat undangan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengundang Matius karena Ia mengasihi orang berdosa dan ingin menyelamatkannya (ayat 13). Sikap orang Farisi ini menunjukkan bahwa mereka tidak merasa perlu mengikut Tuhan Yesus. Oleh karena itu, mereka tetap tinggal sebagai orang berdosa.
Tuhan Yesus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan mereka yang berdosa dan menarik mereka yang tersesat. Seringkali banyak orang yang merasa berdosa dan tersisih dari masyarakat tidak layak untuk datang kepada Yesus tetapi mereka lebih suka menjauh dari Tuhan dan tidak mau beribadah. Melalui perenungan kita pada saat ini kita diingatkan bahwa Tuhan Yesus adalah betul-betul Allah yang selalu mengerti dan peduli terhadap anak-anaknya. Ingatlah, Tuhan Yesus datang ke dunia ini bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.
Renungkan: Apakah anda seperti Matius yang menjawab panggilanNya mengikut Tuhan Yesus? Ataukah anda seperti orang Farisi yang tidak merasa perlu mengikut Dia? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tatapi orang sakit. Amin.
Kuasa Allah versus kuasa setan.
3:23 AM
Perenungan dari Matius 8 : 28 – 34.
aman ini “setan” masih menjadi perhatian publik sehingga acara-acara di televisi berbau mistis yang mencoba mengungkapkan misteri dari dunia lain masih menjadi trend. Betapa bahagianya “setan-setan” sekarang menjadi aktor dan aktris (tapi sayang, mereka tidak mendapat honor dari produser).
Kejadian “ada”nya setan seperti di atas juga disaksikan oleh penulis kitab Matius, khususnya dalam Mat. 8:28-34. Ketika Yesus memasuki daerah Gadara (dalam Markus dan Lukas disebut dengan Gerasa), Dia berhadapan dengan dua orang yang kerasukan setan kuburan (lih. ay. 28). Akibat dari kerasukan tersebut memang diceritakan betapa berbahayanya dua orang tersebut, sehingga membuat takut semua orang. Bahkan setan mampu berdialog dengan Yesus dimana “setan-setan” tersebut merasa terancam keberadaannya dengan hadirnya Yesus. Mereka takut jika diadili oleh Yesus atas perbuatan atau kelakuan mereka (band. Why. 9:5). Jelaslah bahwa kekuatan setan melebihi kekuatan manusia, sehingga manusia tidak akan mampu menaklukkannya.
Yesus tidak tinggal diam. Yesus segera menyuruh setan keluar dari tubuh orang tersebut dan menyuruh setan pindah ke dalam babi-babi. Akibatnya: pertama babi-babi yang dirasuki setan tersebut terjun ke dalam jurang, ke dalam danau dan mati (wah babi-babi yang mati itu dibuat sate apa tidak ya…?? Padahal kan enak). Kedua penjaga babi melaporkan kejadian itu ke kota dan hasilnya seluruh kota mengusir Yesus (ya jelas diusir… kalau Yesus ada di situ terus mereka bisa kehilangan ternak lagi… kalau ternaknya dirasuki setan). Penolakan kehadiran Yesus di Gadara mungkin juga disebabkan adanya pendapat bahwa Yesus mengusir roh jahat dengan kekuatan roh jahat (band. Mat. 12:24). Yang jelas, akhir cerita ini “happy ending” bahwa yang jahat dikalahkan oleh Yesus dan orang yang kerasukan kembali normal keadaannya.
Pelajaran penting dari kisah ini adalah :
1. Bahwa setan itu ada (seperti bacaan kita ay. 28, berhati-hatilah kalau ke kuburan).
2. Bahwa hanya kuasa Allah dalam diri Yesus yang mampu menaklukkan setan. (Kekuatan manusia… tidak mungkin bisa!!!)
3. Bahwa setan mampu merasuki, mampu membuat “gila” dan mampu membuat “bahaya” bagi manusia lain. (karena itu pembaca renungan ini jangan sekali-kali mau dirasuki setan, karena saudara bisa “gila” dan “berbahaya” bagi orang lain).
aman ini “setan” masih menjadi perhatian publik sehingga acara-acara di televisi berbau mistis yang mencoba mengungkapkan misteri dari dunia lain masih menjadi trend. Betapa bahagianya “setan-setan” sekarang menjadi aktor dan aktris (tapi sayang, mereka tidak mendapat honor dari produser).
Kejadian “ada”nya setan seperti di atas juga disaksikan oleh penulis kitab Matius, khususnya dalam Mat. 8:28-34. Ketika Yesus memasuki daerah Gadara (dalam Markus dan Lukas disebut dengan Gerasa), Dia berhadapan dengan dua orang yang kerasukan setan kuburan (lih. ay. 28). Akibat dari kerasukan tersebut memang diceritakan betapa berbahayanya dua orang tersebut, sehingga membuat takut semua orang. Bahkan setan mampu berdialog dengan Yesus dimana “setan-setan” tersebut merasa terancam keberadaannya dengan hadirnya Yesus. Mereka takut jika diadili oleh Yesus atas perbuatan atau kelakuan mereka (band. Why. 9:5). Jelaslah bahwa kekuatan setan melebihi kekuatan manusia, sehingga manusia tidak akan mampu menaklukkannya.
Yesus tidak tinggal diam. Yesus segera menyuruh setan keluar dari tubuh orang tersebut dan menyuruh setan pindah ke dalam babi-babi. Akibatnya: pertama babi-babi yang dirasuki setan tersebut terjun ke dalam jurang, ke dalam danau dan mati (wah babi-babi yang mati itu dibuat sate apa tidak ya…?? Padahal kan enak). Kedua penjaga babi melaporkan kejadian itu ke kota dan hasilnya seluruh kota mengusir Yesus (ya jelas diusir… kalau Yesus ada di situ terus mereka bisa kehilangan ternak lagi… kalau ternaknya dirasuki setan). Penolakan kehadiran Yesus di Gadara mungkin juga disebabkan adanya pendapat bahwa Yesus mengusir roh jahat dengan kekuatan roh jahat (band. Mat. 12:24). Yang jelas, akhir cerita ini “happy ending” bahwa yang jahat dikalahkan oleh Yesus dan orang yang kerasukan kembali normal keadaannya.
Pelajaran penting dari kisah ini adalah :
1. Bahwa setan itu ada (seperti bacaan kita ay. 28, berhati-hatilah kalau ke kuburan).
2. Bahwa hanya kuasa Allah dalam diri Yesus yang mampu menaklukkan setan. (Kekuatan manusia… tidak mungkin bisa!!!)
3. Bahwa setan mampu merasuki, mampu membuat “gila” dan mampu membuat “bahaya” bagi manusia lain. (karena itu pembaca renungan ini jangan sekali-kali mau dirasuki setan, karena saudara bisa “gila” dan “berbahaya” bagi orang lain).
HATI YANG PEKA
3:22 AM
Perenungan dari Matius 14 : 13 - 21
Seiring dengan peradaban jaman yang semakin maju, kita dapat melihat bahwa tingkat kepedulian terhadap sesama manusia saat ini nampaknya mengalami penurunan. Manusia lebih suka mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli lagi terhadap sesamanya. Disaat ada sesama manusia yang membutuhkan pertolongan orang cenderung enggan untuk menolong, mereka lebih suka berpangku tangan. Bisa juga seseorang mau menolong sesamanya, tetapi memperhitungkan dulu segi untung dan ruginya. Lalu bagaimanakah dengan kehidupan orang Kristen di jaman ini? Apakah orang Kristen saat ini sama dengan kehidupan orang–orang di dunia yang penuh dengan keegoisan? Atau berani tampil beda? (Artinya hidup sesuai dengan kasih Allah).
Tuhan Yesus Kristus peka akan keadaan orang banyak. Disaat Yesus Kristus melihat mereka kelelahan dan kekurangan makanan, maka timbullah belas kasihanNya. Disini belas kasihan Yesus Kristus muncul karena kebutuhan fisik. Yesus berhati peka terhadap orang banyak yang mengikutiNya. Ia ingin para muridNya pun peka terhadap setiap orang, bahkan bersedia memberi. Murid–murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Jelas tidak cukup untuk orang banyak. Masih dibutuhkan sedikitnya 5000 roti dan 5000 ikan. Sungguh jumlah yang mustahil. Akan tetapi dihadapan Yesus bukan jumlah yang membuatnya mustahil atau tidak. Segala yang dipersembahkan kepadaNya, diterimaNya, diberkati, dilipatgandakan. Hasilnya? Lima roti dan dua ikan yang telah diberkati Yesus Kristus itu membuat semua orang kenyang. Bahkan ada sisa 12 bakul.
Jemaat yang mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, apabila kita menghitung–hitung berkat Allah yang telah diberikan dalam kehidupan kita baik jasmani dan rohani sebetulnya sungguh berlimpah. Pertannyaannya adalah: maukah saat ini kita membagikan berkat yang diberikan Allah bagi orang lain atau sesama kita yang membutuhkan? Krisis berkepanjangan di Indonesia menyebabkan banyak saudara–saudara kita kekurangan gizi dan nutrisi. Berilah mereka bantuan. Karna sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. ( Matius 25 : 40 ).
Seiring dengan peradaban jaman yang semakin maju, kita dapat melihat bahwa tingkat kepedulian terhadap sesama manusia saat ini nampaknya mengalami penurunan. Manusia lebih suka mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli lagi terhadap sesamanya. Disaat ada sesama manusia yang membutuhkan pertolongan orang cenderung enggan untuk menolong, mereka lebih suka berpangku tangan. Bisa juga seseorang mau menolong sesamanya, tetapi memperhitungkan dulu segi untung dan ruginya. Lalu bagaimanakah dengan kehidupan orang Kristen di jaman ini? Apakah orang Kristen saat ini sama dengan kehidupan orang–orang di dunia yang penuh dengan keegoisan? Atau berani tampil beda? (Artinya hidup sesuai dengan kasih Allah).
Tuhan Yesus Kristus peka akan keadaan orang banyak. Disaat Yesus Kristus melihat mereka kelelahan dan kekurangan makanan, maka timbullah belas kasihanNya. Disini belas kasihan Yesus Kristus muncul karena kebutuhan fisik. Yesus berhati peka terhadap orang banyak yang mengikutiNya. Ia ingin para muridNya pun peka terhadap setiap orang, bahkan bersedia memberi. Murid–murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Jelas tidak cukup untuk orang banyak. Masih dibutuhkan sedikitnya 5000 roti dan 5000 ikan. Sungguh jumlah yang mustahil. Akan tetapi dihadapan Yesus bukan jumlah yang membuatnya mustahil atau tidak. Segala yang dipersembahkan kepadaNya, diterimaNya, diberkati, dilipatgandakan. Hasilnya? Lima roti dan dua ikan yang telah diberkati Yesus Kristus itu membuat semua orang kenyang. Bahkan ada sisa 12 bakul.
Jemaat yang mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus, apabila kita menghitung–hitung berkat Allah yang telah diberikan dalam kehidupan kita baik jasmani dan rohani sebetulnya sungguh berlimpah. Pertannyaannya adalah: maukah saat ini kita membagikan berkat yang diberikan Allah bagi orang lain atau sesama kita yang membutuhkan? Krisis berkepanjangan di Indonesia menyebabkan banyak saudara–saudara kita kekurangan gizi dan nutrisi. Berilah mereka bantuan. Karna sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. ( Matius 25 : 40 ).
Usahakan dan peliharalah taman ini !!!
3:21 AM
Perenungan dari Kejadian 1 : 8 - 15 (Nas Kejadian 1 : 15).
BBM langka… BBM langka. Fenomena ini cukup menghebohkan rakyat Indonesia. Kata Koes Plus dalam lagunya: orang bilang tanah kita tanah surga, tempat batu dan kayu jadi tanaman. Tapi sayang suasana surgawi yang demikian belum bisa menyejahterakan rakyat Indonesia.
Ini baru masalah BBM. Mungkin besok pagi kita harus matikan listrik mulai jam 09.00 sampai jam 18.00 WIB (karena PLN tidak mampu menyediakan daya listrik). Mungkin besok pagi kita dijatah air dari PDAM 2 genthong (karena sumber air kering). Mungkin besok pagi kita import beras dari negara lain (karena sawah sudah menjadi pabrik). Dan kemungkinan-kemungkinan yang lain, yang masih bisa terjadi dalam kehidupan kita. Mengapa bisa terjadi demikian?
Jika kita perhatikan Kej. 1:8-15 betapa Allah membuat sebuah taman yang sangat indah bagi manusia, dimana taman itu berisi: tumbuhan berbagai jenis untuk makanan manusia (ay. 9), air sebagai sumber kehidupan manusia (ay. 10-11, 13-14), emas untuk menunjang kehidupan manusia (ay. 12).
Kemudian Allah menempatkan manusia di dalamnya dan diperintahkan untuk mengusahakan (ay. 15). Kata mengusahakan artinya manusia diberi wewenang untuk mengolah, memanfaatkan sumber daya alam ciptaan Allah itu untuk kebutuhan dan kelangsungan hidup manusia. Jelas sekali bahwa mulai jaman Adam-Hawa sampai sekarang, kita sudah mengusahakan alam semesta ini. Jadi kita sudah melakukan kehendak Allah tersebut. Tetapi ingat, manusia juga diberi tugas untuk memelihara taman itu (ay. 15). Kata memelihara artinya manusia diberi tugas untuk melestarikan sumber daya yang diberikan Allah tersebut. Memelihara bukan berarti meng-ekploitasi, mengambil sebanyak-banyaknya, menghabiskan dan merusak sumber daya alam itu demi “kesenangan” manusia semata. Inilah tugas terberat yang ditanggung manusia dalam kehidupannya.
Perenungan bagi kita, apakah kita sudah melakukan tugas Allah untuk memelihara alam ini? Bukankah sering kali kita ikut-ikutan dunia yang meng-eksploitasi bahkan merusak alam ini? Mari kita gunakan sisa hidup kita untuk melestarikan alam ini sebagai taman kehidupan yang indah bagi kita.
BBM langka… BBM langka. Fenomena ini cukup menghebohkan rakyat Indonesia. Kata Koes Plus dalam lagunya: orang bilang tanah kita tanah surga, tempat batu dan kayu jadi tanaman. Tapi sayang suasana surgawi yang demikian belum bisa menyejahterakan rakyat Indonesia.
Ini baru masalah BBM. Mungkin besok pagi kita harus matikan listrik mulai jam 09.00 sampai jam 18.00 WIB (karena PLN tidak mampu menyediakan daya listrik). Mungkin besok pagi kita dijatah air dari PDAM 2 genthong (karena sumber air kering). Mungkin besok pagi kita import beras dari negara lain (karena sawah sudah menjadi pabrik). Dan kemungkinan-kemungkinan yang lain, yang masih bisa terjadi dalam kehidupan kita. Mengapa bisa terjadi demikian?
Jika kita perhatikan Kej. 1:8-15 betapa Allah membuat sebuah taman yang sangat indah bagi manusia, dimana taman itu berisi: tumbuhan berbagai jenis untuk makanan manusia (ay. 9), air sebagai sumber kehidupan manusia (ay. 10-11, 13-14), emas untuk menunjang kehidupan manusia (ay. 12).
Kemudian Allah menempatkan manusia di dalamnya dan diperintahkan untuk mengusahakan (ay. 15). Kata mengusahakan artinya manusia diberi wewenang untuk mengolah, memanfaatkan sumber daya alam ciptaan Allah itu untuk kebutuhan dan kelangsungan hidup manusia. Jelas sekali bahwa mulai jaman Adam-Hawa sampai sekarang, kita sudah mengusahakan alam semesta ini. Jadi kita sudah melakukan kehendak Allah tersebut. Tetapi ingat, manusia juga diberi tugas untuk memelihara taman itu (ay. 15). Kata memelihara artinya manusia diberi tugas untuk melestarikan sumber daya yang diberikan Allah tersebut. Memelihara bukan berarti meng-ekploitasi, mengambil sebanyak-banyaknya, menghabiskan dan merusak sumber daya alam itu demi “kesenangan” manusia semata. Inilah tugas terberat yang ditanggung manusia dalam kehidupannya.
Perenungan bagi kita, apakah kita sudah melakukan tugas Allah untuk memelihara alam ini? Bukankah sering kali kita ikut-ikutan dunia yang meng-eksploitasi bahkan merusak alam ini? Mari kita gunakan sisa hidup kita untuk melestarikan alam ini sebagai taman kehidupan yang indah bagi kita.